Download
slide1 n.
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
PENDAHULUAN Hewan membutuhkan nutrisi untuk kelangsungan hidupnya. PowerPoint Presentation
Download Presentation
PENDAHULUAN Hewan membutuhkan nutrisi untuk kelangsungan hidupnya.

PENDAHULUAN Hewan membutuhkan nutrisi untuk kelangsungan hidupnya.

431 Vues Download Presentation
Télécharger la présentation

PENDAHULUAN Hewan membutuhkan nutrisi untuk kelangsungan hidupnya.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • PENDAHULUAN • Hewan membutuhkan nutrisi untuk kelangsungan hidupnya. • Nutrisi adalah komponen yang dikandung dalam makanan yg dapat dimanfaatkan oleh tubuh hewan. • Nutrisi meliputi nutrisi makro (protein, lemak dan karbohidrat) dan nutrisi mikro (vitamin dan mineral). • Pakan tubuh hewan mengalami pemecahan menjadi molekul sederhana dalam suatu proses yang disebut digesti. • Digesti terjadi secara mekanik maupun kimia - dipercepat oleh katalisator yaitu enzim.

  2. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Topik • Komponen pakan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kehidupan hewan • Bagaimana hewan memperoleh pakan. • Kebiasaan makan, tipe-tipe pakan dan metode makan. • Digesti fisik & kimiawi-ekstraseluler & intraseluler. • Absorpsi.

  3. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • KEBIASAAN MAKAN • Herbivora - ikan koan (Ctenopharyngodon idella) dan gurami (Osphronemus gouramy) - memiliki usus menggulung & panjang. • Sekitar 26% ikan Teleostei adalah herbivora - mengkonsumsi alga dan tumbuhan air. • Berudu bersifat herbivora sehingga ususnya panjang dan menggulung, setelah menjadi katak berubah menjadi karnivora yang ususnya pendek dan tidak menggulung. • Karnivora – predator, hewan kecil Nereis fucata – gigi tajam, menelan, usus pendek lurus

  4. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Hewan Karnivora

  5. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • KEBIASAAN MAKAN • Omnivora memakan algae, tumbuhan dan hewan lain, bahkan kadangkala memakan detritus. • Cacing laut Nereis pelagica, Nereis virens, Nereis diversicolor, terdapat rongga coelom, tidak memiliki usus. • Usus berukuran sedang, lebih pendek dari usus hewan herbivora tetapi lebih panjang dari usus hewan karnivora - ikan karper (Cyprinus carpio) dan ikan lele (Clarias sp.).

  6. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Herbivora 26% Omnivora 61,5% Karnivora 12,5% FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Ikan: • Herbivora, Karnivora, Omnivora, Detrivora, Planktivora • Euryphagous – pakan campuran • Stenophagus – tipe pakan terbatas • Monophagous – satu tipe pakan

  7. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Nocturnal/diurnal? • Nocturnal - post larva udang windu (Penaeus monodon) aktivitas makan tinggi jam 18.00 - 22.00, rendah jam 02.00 (Hastini, data tidak dipublikasikan). • Indeks kepenuhan lambung pada ikan sidat (Anguila bicolor) yang tertangkap di Segara Anakan pada malam hari > siang hari (Setijanto et al, 2003).

  8. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti

  9. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Aktivitas makan ditunjukkan dengan perubahan harian indeks bobot isi lambung larva ikan Scomberomorus niphonius (Shoji et al., 2001)

  10. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Aktivitas makan dirangsang • musim, • waktu siang-malam, • intensitas cahaya, • temperatur • ritme internal. Osphronemus gouramy

  11. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Nucleus Partikel pakan Pakan setelah digesti 1 4 2 3 FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • MEKANISME MAKAN • Partikel kecil ( suspensi) • Protozoa, Amoeba, Radiolaria, Ciliata, Bivalvia, Gastropoda, Crustaceamemakan bakteri dan algae, jml. di laut > perairan tawar. • diperoleh dengan cara menyaring (filter feeder), menggunakan cilia. • Fagositosis yang dilakukan oleh Amoeba

  12. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Burung dan beberapa mammalia - ikan paus: mammalia pemakan suspensi Baleen plate Lempeng baleen (baleen plate) menggantung dibagian atas mulut ikan paus. Setelah air dimasukkan kedalam mulut kemudian disemburkan keluar, makanan terperangkap dalam lempeng tersebut dan selanjutnya ditelan (Kay, 1998)

  13. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Cara memperoleh pakan partikel besar: memakan massa pakan inaktif, yang terdapat disekitarnya -Lumbricus terrestris memakan partikel organik berupa detritus pada tanah disekelilingnya. • Moluska memiliki organ berbentuk seperti kikir -radula yang berada pada struktur menyerupai lidah -odontophore, untuk mencabik-cabik pakannya. Radula bergerak maju mundur, menggaruk partikel pakan dankemudian diantarkan ke awal saluran digesti

  14. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Gigi pada radula Radula Odontofor Mulut Otot retraktor radula FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Radula pada bekicot berfungsi untuk menggaruk partikel pakan yang selanjutnya dibawa ke sistem digesti. Radula bergerak kearah dan meninggalkan odontophore

  15. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Hydra begitu mangsa menyentuh cnidocils pada nematoblast yang terletak dalam tentacle - melepaskan nematocysts- duri beracun mengakibatkan mangsa lumpuh, bahkan mati. Selanjutnya mangsa dibawa oleh tentacle kedalam mulut, untuk selanjutnya masuk kedalam rongga enteron. Digesti ekstraseluler terjadi dalam enteron. • Belalang Chorthippus mandibulanya yang kuat dan bergerigi menggigit dan mengunyah makanan tetumbuhan. Maxillae dan labiumnya mengarahkan makanan ke mulut dan kemudian ditelan.

  16. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • gigi mammalia • gigi karnivora • gigi rodentia • gigi herbivora • I: incisor • C: canine; • P: premolar; • M: molar • (Withers, 1992).

  17. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti palpus Pemakan cairan darah mulut lalat rumah yang memiliki proboscis dan nyamuk memiliki stylets Pemakan cairan nektar

  18. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Musca domestica memiliki proboscis – tdp. dua labellae pada ujung distalnya & masing-masing memiliki pseudotracheae. Saat makan proboscis menempelkan labellae-nya pada makanan - menyiramkan saliva - dicerna secara ekstraseluler. Makanan cair dihisap kedalam pseudotracheae, kemudian dibawa menuju usus dengan aktivitas otot faring. • Anopheles sp. betina memiliki stylets untuk menusuk kulit mammalia dan masuk ke kapiler darah - dipompa kedalam tubuh nyamuk melalui kanal makanan yg t.a. hypopharynx dan labrum. Nyamuk mensekresi anticoagulant kedalam darah yang dihisap.

  19. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti

  20. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Kebutuhan Nutrisi pd Hewan • Hewan akuatik memperoleh ion essensial dari lingkungan lewat permukaan epitel seperti insang dan kulit, namun hewan darat memperoleh nutrien dari absorpsi melalui aluran GI tract • Nutrien essensial, adl senyawa kimia yang harus terdapat dalam pakan, seperti vitamin dan mineral dan juga beberapa asam amino dan asam lemak. • Nutrien non-essensial adl senyawa kimia yang hewan dapat memproduksi dari molekul lain.

  21. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Diet memasok energi untuk aktivitas biologi • Setiap diet memiliki energi content yang dpt digambarkan dlm standar unit energi: Joule atau kalori. • Ukuran tubuh, level aktivitas, laju pertumbuhan, status reproduksi, dan stres lingkungan adl faktor-faktor penting yang mempengaruhi laju metabolisme, dan juga kebiutuhan energi diet • Setiap makromolekul memiliki energi content equivalent, 1 gram protein tau karbohidrat memiliki 4 kcal, sedangkan lemak memiliki 9 kcal • Namun tidak semua makanan yang dikonsumsi digestable

  22. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Dietary energy Gross energy fecesindigestable energy Digestable energy urine Unmetabolizable energy Metabolizable energy Spesific Dynamic Action (SDA) Net Energy

  23. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Protein • Ukuran – kecil, sedang, besar • insulin – 50 asam amino, BM 6.000 Kd. • hemoglobin – BM 66.000 Kd. • fibrinogen – BM 500.000Kd.

  24. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Untuk apa? • Membentuk kolagen dalam tulang dan kartilago, membran sel. • Membentuk enzim dan hormon • Membentuk antibodi yang berfungsi untuk respon kekebalan • Sebagai protein khusus lain seperti hemoglobin • Filamen serabut otot • Penting dalam ekspresi gen

  25. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Proteinmerupakan sumber asam amino esensial dan non esensial

  26. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Kebutuhan protein pada level optimum dalam pakannya Pertumbuhan dan efisiensi pakan bulu babi Pseudocentrotus depresus selama 8 minggu percobaan (Akiyama et al., 2001). Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata.

  27. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Protein pakan ikan hias FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Pertumbuhan Reproduksi

  28. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN T I IS S T Sumber protein Gambar 2.11. Laju pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus gouramy) yang diberi pakan yang mengandung sumber protein hewani dan nabati. T: pelet mengandung tepung tubifex; I: pelet mengandung tepung ikan; IS: pelet mengandung tepung ikan dan tepung daun sente; S: pelet mengandung tepung daun sente; E: pelet mengandung tepung daun eceng gondok (Sumber data: Goenarso & Sudibya, 1999).

  29. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Polychaeta vs Artemia Laju kelulusan hidup udang windu post larva yang diberi pakan cacahan cacing lur dan artemia.

  30. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Pertumbuhan dan konversi pakan, udang windu PL 20 s/d PL40 yang diberi pakan remahan mengandung tepung cacing lur. Data dalam tabel yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata (P>0,05)

  31. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti Pengambilan pakan dan laju makan udang windu PL 20 s/d PL40 yang diberi pakan remahan mengandung tepung cacing lur. Data dalam tabel yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata (P>0,05)

  32. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Kandungan asam amino tepung cacing lur Nereis sp. Nutrisi *Asam amino esensial bagi udang Penaeidae (Dall et al., 1990).

  33. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN • Cacing lur mengandung asam-asam amino yang merupakan kemoatraktan bagi udang: • glisin, • alanin, • serin, • metionin, • isoleusin, • asam glutamat, • valin, • threonin, • lisin Maturation diet?

  34. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Kebutuhan protein kasar tercerna pada mamalia reproduksi meningkat sampai hampir 30 kali lipat • Kambing kacang di Malaysia 3,6 g per kg bobot badan, • Kambing kerdil Afrika Barat 4,7 g per kg bobot badan • Kambing Jamnapari India 6,1 gram per kg bobot badan(Davendra & Burn, 1983). • Kebutuhan protein pada kambingh fase pertumbuhan : 0,13 – 0,27 g per kg bobot badan

  35. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Kandungan protein dalam pakan juga mempengaruhi kinerja reproduksi hewan invertebrata. • Sebagai contoh, bulu babi (Loxechinus albus) yang diberi pakan buatan yg mengandung protein 20,1%, bobot gonadnya lebih tinggi dari yang diberi pakan makroalgae dengan kandungan protein 17,1% dan 11,4% (Olave & Bustos, 2001).

  36. UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FISIOLOGI HEWAN I Nutrisi dan Digesti • Kelebihan proteinhewani dapat menyebabkan kadar asam urat pada manusia > 8 mg% (hyperuricaemia) • Asam urat berasal dari nucleoprotein, yang berisi protein dan asam nukleat. Asam nukleat dipecah menjadi pirimidin dan purin. Purin tsb yg dirombak menjadi asam urat. • Pembentukan asam urat adalah normal. Jika pengolah protein dalam tubuh terganggu atau jika pembuangan sisa limbah olahan protein kurang lancar, maka asam urat dalam darah tinggi.