Download
slide1 n.
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
BAHAN KAJIAN MK. Dasar Ilmu Tanah EROSI TANAH smno.jurtnh.fpub.nop2013 PowerPoint Presentation
Download Presentation
BAHAN KAJIAN MK. Dasar Ilmu Tanah EROSI TANAH smno.jurtnh.fpub.nop2013

BAHAN KAJIAN MK. Dasar Ilmu Tanah EROSI TANAH smno.jurtnh.fpub.nop2013

306 Vues Download Presentation
Télécharger la présentation

BAHAN KAJIAN MK. Dasar Ilmu Tanah EROSI TANAH smno.jurtnh.fpub.nop2013

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. BAHAN KAJIAN MK. DasarIlmu Tanah EROSI TANAH smno.jurtnh.fpub.nop2013

  2. EROSI TANAH Erosiadalahperistiwapengikisanpadatan (sedimen, tanah, batuan, danpartikellainnya) akibattransportasiangin, airataues, karakteristikhujan, “rayapan” padatanahdan material lain dibawahpengaruhgravitasi, atauolehmakhlukhidupsepertihewan yang membuatliang, dalamhalinidisebutbio-erosi. Erositidaksamadenganpelapukanakibatcuaca, pelapukanmerupakanprosespenghancuran mineral batuandenganproseskimiawimaupunfisik, ataugabungankeduanya.

  3. EROSI TANAH Erosisebenarnyamerupakanprosesalami yang mudahdikenali, namundikebanyakantempatkejadianinidiperparaholehaktivitasmanusiadalamtatagunalahan yang buruk, penggundulanhutan, kegiatanpertambangan, perkebunandanperladangan, kegiatankonstruksi / pembangunan yang tidaktertatadenganbaikdanpembangunanjalan. Tanah yang digunakanuntukmenghasilkantanamanpertanianbiasanyamengalamierosi yang jauhlebihbesardaritanahdenganvegetasialaminya. Alihfungsihutanmenjadiladangpertanianmeningkatkanerosi, karenastrukturakartanamanhutan yang kuatmengikattanahdigantikandenganstrukturakartanamanpertanian yang lebihlemah. Praktektatagunalahan yang intensifdapatmembatasierosi, menggunakanteknikterrasering, praktekkonservasilahandanpenanamanpohonpermanen.

  4. DAMPAK EROSI TANAH Dampakdarierosiadalahmenipisnyalapisanpermukaantanahbagianatas, yang akanmenyebabkanmenurunnnyakemampuanlahan (degradasilahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran. Sumber: diunduh dari:

  5. FAKTOR-FAKTOR EROSI TANAH Banyaknyaerositergantungberbagaifaktor. FaktorIklim, termasukbesarnyadanintensitashujan / presipitasi, rata-rata danrentangsuhu, begitu pula musim, kecepatanangin, frekuensibadai. faktorgeologitermasuktipesedimen, tipebatuan, porositasdanpermeabilitasnya, kemiringnlahan. Faktorbiologistermasuktutupanvegetasilahan, makhluk yang tinggaldilahantersebutdantatagunalahanoolehmanusia. Sumber: diunduh dari:

  6. TUTUPAN LAHAN Jumlahdantipetutupanlahansangatdinamis. Padalahanhutanyang takterjamah, “tanah” dilindungiolehseresah-hutandipermukaantanah. Lapisanseresah-hutanmelindungimuka-tanahdenganmeredamdampaktetesanhujan; lapisanserasahinibersifatporusdanmudahmeresapkan air hujan (infiltrasi), sehingga runoff minimum. ApabilaPepohonandihilangkan (kebakaranataupenebangan), runoff menjadibanyakdanerosimenjadilebihintensif. Kebakaranhutan yang parahmengakibatkanpeningkatan runoff danerositanah.

  7. TUTUPAN LAHAN Kegiatankonstruksiataupembangunanjalan. Topsoil dihilangkanataudipadatkan, tanahmudahtererosi. Adanyajalan--------- Menghilangkantutupanlahan, Menghambatinfiltrasi, Mengubahpoladrainase

  8. Erositanah (soil erosion) Erositanah (soil erosion) adalahprosespenghanyutantanahdanmerupakangejalaalam yang wajardanterusberlangsungselamaadaaliranpermukaan. Erosisemacamitumelajuseimbangdenganlajupembentukantanahsehinggatanahmengalamiperemajaansecaraberkesinambungan. Erositanahberubahmenjadibahayajikaprosesnyaberlangsunglebihcepatdarilajupembentukantanah. Erosiyang mengalamipercepatansecaraberangsurakanmenipiskantanah, bahkanakhirnyadapatmenyingkapbahaninduktanahataubatuandasarkepermukaantanah. Erosisemacaminitidakhanyamerusaklahandaerahhulu (upland) yang terkenaerosilangsung, tetapijugaberbahayabagidaerahhilir (lowland). Material tanah (hasilerosi) yang diendapkandihilirberakibatburukthdbangunanatautubuh-alampenyimpanan /penyalur air , pendangkalandapatberakibatkapasitastampungmenurun. Olehkarenanya, usahapenanggulanganataupengendalianerosiharusmenjadibagian yang utamadarisetiaprencanapenggunaanlahan.

  9. PENYEBAB EROSI TANAH Erositanahdapatterjadikarenabeberapasebab : Tanah gundulatautidakadatanamannya; Tanah miring tidakdibuatteras–terasdanguludansebagaipenyangga air dantanah yang lurus; Tanah tidakdibuattanggulpasangansebagaipenahanerosi; Padatanahdikawasanhutanrusakkarenapohon–pohonditebangsecara liar sehinggahutanmenjadigundul; Padapermukaantanah yang berlumpurdigunakanuntukpengembalaan liar sehinggatanahatassemakinrusak. Sumber: diunduh dari:

  10. ProsesterjadinyaErosidanSedimentasi Erosiadalahsuatuprosespenghancurantanah (detached) dankemudiantanahtersebutdipindahkanketempat lain olehkekuatan air, angin, gletserataugravitasi. Di Indonesia erosi yang terpentingadalahdisebabkanoleh air. Di daerahberiklimtropikabasah, aliranmerupakanpenyebabutamaerositanah, sedangkanangintidakmempunyaipengaruh yang berarti. Proseserositerdiriatastigabagian yang berurutan : Pengelupasan (detachment), Pengangkutan (transportation), dan Pengendapan (sedimentation).

  11. EROSI-TANAH OLEH AIR Proses erosi oleh air merupakan kombinasi dua sub proses yaitu : Penghancuran struktur tanah menjadi butir-butir primer oleh energi tumbuk butir-butir hujan yang menimpa tanah dan perendaman oleh air yang tergenang, dan pemindahan (pengangkutan) butir-butir tanah oleh percikan hujan, dan Penghancuran struktur tanah diikuti pengangkutan butir-butir tanah tersebut oleh air yang mengalir dipermukaan tanah. Secara skematis proses terjadinya erosi diperlihatkan pada bagan berikut ini. Sumber: diunduh dari:

  12. Skema proses terjadinya Erosi Tanah (Arsyad, 1989) Pemindahanbutir-butirtanaholehpercikanhujan Penghancurantanaholehenergikinetikhujan Pengangkutanoleh air ygmengalir Butir-butirtanahygterlepas Butir-butirtanahygterlepas Sumber: diunduh dari:

  13. EROSI TANAH OLEH AIR HUJAN Air hujan yang menimpatanah-tanahterbukaakanmenyebabkantanahterdispersi. Sebagiandari air hujan yang jatuhtersebutakanmengalirdiataspermukaantanah. Banyaknyaair hujan yang mengalirdiataspermukaantanahtergantungpadahubunganantarajumlahdanintensitashujandengankapasitasinfiltrasitanahdankapasitaspenyimpanan air tanah. Kekuatanperusak air yang mengalirdiataspermukaantanahakansemakinbesardengansemakincuramdanmakinpanjanglerengpermukaantanah.

  14. Gaya-gaya yang terlibatdalamproseserosi. Erosion is caused by rainfall, which displaces soil particles on inadequately protected areas and by water running over soil, carrying some soil particles away in the process. The rate of soil particle removal is proportional to the intensity and duration of the rainfall and to the volume and characteristics of the water flow and soil properties. Deposisisedimenterjadikalaukecepatanaliran air menurundankapasitastranspor air ygmengalirtidakcukupkuatuntukmengangkutsemuamuatansedimen. (sumber: http://onlinemanuals.txdot.gov/txdotmanuals/hyd/soil_erosion_control_considerations.htm)

  15. Hujan – vegetasi - erosi Tumbuh-tumbuhanyang hidupdiataspermukaantanahdapatmemperbaikikemampuantanahmenyerap air danmemperkecilkekuatanperusakbutir-butirhujan yang jatuh, dandayadispersidanangkutaliran air diataspermukaantanah. Perlakuanatautindakan-tindakan yang diberikanmanusiaterhadaptanahdantumbuh-tumbuhandiatasnyaakanmenentukanapakahtanahituakanmenjadibaikdanproduktifataumenjadirusak. Hubunganantaraerosiolehhujandidaerahtangkapandanbesarnyasedimentasi yang terpantaudialiransungaidibagianbawahdaerahtangkapan air tersebuteratkaitannyadengansistemhidrologi DAS. Hujansebagaimasukandalamsistemhidrologi DAS setelahmengalamiprosesakanmenghasilkankeluaranberupa debit alirandanmuatansedimen. Komponen-komponenmasukan, proses, dankeluarandalamsistemhidrologi DAS terkaitsatusama lain. Output DAS dipengaruhiolehmasukandanproses yang terjadi.

  16. . Keterkaitan hujan, runoff, erosi dan debit sungai (sumber: http://nicholasmahendra.files.wordpress.com)

  17. EROSI TANAH - MUATAN SEDIMEN Tetesan hujan menghancurkan partikel tanah dan mengangkutnya memasuki aliran sungai menjadi muatan sedimen Air Hujan : Infiltrasi ke dalam tanah, Aliran permukaan Faktorfisik DAS: lereng, tanah, vegetasi, landuse Air hujan menjadi aliran permukaan (overland flow) mengikis dan mengangkut partikel tanah memasuki aliran aliran. Output: Debit aliran, Muatansedimen, Unsurhara. Aliran sungai : Transport sedimen Erosi tebing sungai Sumber: diunduh dari:

  18. MUATAN SEDIMEN Berdasarkantransportasinya, muatansedimendibagiduayaitu: MUATAN DASAR: partikel yang bergerakpadadasarsungaiataudekatdasarsungaidenganpergerakanmeloncat, menggelindingataubergeserpadadasarsungai. MUATAN SUSPENSI: Partikel yang melayangdalam air, bergerakdisebabkanolehaliranturbulen. Sumber: diunduh dari:

  19. Muatansuspensi(suspended load) Muatansuspensi(suspended load)merupakan material yang melayangdalamaliransungai, minim berinteraksidengandasarsungaikarenadidorongkeatasolehturbulensialiran. Penentuanmuatansuspensi : Pengambilansampel, Penyaringan, Penimbangan, Kadar suspensi, danPerhitungan debit suspensi. Metodepengambilansampeldapatdilakukandengancara: Depth integrating , atau Point integrating.

  20. MUATAN SUSPENSI - SUSPENDED LOADS Partikelmuatansuspensibergerakmelayangdalamaliran yang turbulen. Padaaliran yang laminer, konsentrasinyaakanberkurangdariwaktukewaktuseiringberkurangnyakecepatanaliran, danakandiendapkanpadasuatutempat. Dengandemikiandimungkinkanterdapathubunganantara debit alirandengankadarmuatansuspensi, sertasecaralanjutterdapathubunganantara debit alirandengan debit suspensi. Hubunganantara debit alirandengan debit suspensidapatberupakurvalengkungsuspensi(suspended rating curve). Kurvalengkungsuspensi(suspended rating curve) inidigunakandalamperhitungan debit muatansuspensipadasaattidakadapengukuran. Debit muatansuspensidapatditentukandenganpersamaanlengkungsuspensi yang dihasilkandarikurvamelaluiregresikurvaberpangkat(power curve). Hasilpenentuan debit suspensidigunakanuntukmenentukanberatsuspensi total (Sy).

  21. Muatansuspensi(suspended load) Muatansuspensidipengaruhioleh: Tebalhujan (P) , Debit puncak (Qp), Volume direct runoff (DRO) Hujanmenentukanproseserosi-tanah, energikinetiktetesan-hujanmenghancurkanagregattanah. Karakteristikaliran air: Energipengangkutpartikeltanahhasilerosi. Besarnyamuatansuspensimenjadiindikatorintensitaserositanahdidaerahaliransungai

  22. Jenis-jenis Erosi oleh Air Pelarutan. Tanah kapur mudah dilarutkan air sehingga di daerah kapur sering ditemukan sungai-sungai di bawah tanah. Erosi percikan (splash erosion). Curah hujan yang jatuh langsung ke tanah dapat melemparkan butir-butir tanah sampai setinggi 1 meter ke udara. Di daerah yang berlereng, tanah yang terlempartersebutumumnyajatuhkelerengdibawahnya. Rain splash erosion is caused by the impact of water striking the surface. Rain splash erosion generally takes place in two steps. As precipitation is absorbed by the surface it fills the pore spaces, loosening soil particles and driving them apart. The impact of subsequent rain drops hitting the surface splash the particle away from the point of impact. The effect is to give the surface a dimpled-like appearance.

  23. EROSI PERCIK (PERCIKAN AIR HUJAN) Raindrop erosion is a result of rain splash - the direct impact of falling drops of rain on soil particles. The raindrop dislodges soil particles, making them more susceptible to movement by overland water flow. The loosened particles that are not washed away can form a muddy slick that clogs pores in the ground surface. The sealed surface further reduces inflitration and increase runoff. The magnitude of soil loss resulting from rain splash can best be seen on a gravelly or stony soil. (sumber: http://www.vbco.org/planningeduc0042.asp)

  24. Erosilembar (sheet erosion) – ErosiPermukaan Pemindahantanahterjadilembardemilembar (lapis demi lapis) mulaidarilapisan yang paling atas. Erosiinisepintaslalutidakterlihat, karenakehilanganlapisan-lapisantanahseragam, tetapidapatberbahayakarenapadasuatusaatseluruh top soil akanhabis. Surface runoff forms when the rainfall intensity of a storm exceeds the infiltration capacity of the soil. Sheet erosion is caused by the unconfined flow of water running across the surface. The effects of sheet erosion are often hard to distinguish because such thin layers of soil are being removed. It isn't until several years later that significant degradation is perceived. 

  25. EROSI PERMUKAAN (SHEET EROSION) Erositanahinidicirikanolehpengangkutanpartikeltanahmenurunilerengdalamselapistipis air runoff. Erosiiniterjadikalauseluruhpermukaanlahanterkikissecaraseragam. Proseserosiinibertahapdankehilangantanahtidakmudahdilihat. (sumber: http://www.nda.agric.za/docs/erosion/erosion.htm) Sumber: diunduh dari:

  26. ErosiAlur (rill erosion) Proseserosiinidimulaidengangenangan-genangankecilsetempat-setempatdisuatulereng, makabila air dalamgenanganitumengalir, terbentuklahalur-alurbekasaliran air tersebut. Alur-aluritumudahdihilangkandenganpengolahantanahbiasa. Rill erosion is caused by water concentrating into innumerable, closely-spaced small channels. Left unchecked, rills can cut vertically and horizontally and when joined form gullies. Rill erosion refers to the development of small, ephemeral concentrated flow paths, which function as both sediment source and sediment delivery systems for erosion on hillslopes. Generally, where water erosion rates on disturbed upland areas are greatest, rills are active. Flow depths in rills are typically on the order of a few centimeters or less and slopes may be quite steep. These conditions constitute a very different hydraulic environment than typically found in channels of streams and rivers. Eroding rills evolve morphologically in time and space. The rill bed surface changes as soil erodes, which in turn alters the hydraulics of the flow.

  27. Erosi Jurang (gully erosion) Erosi ini merupakan lanjutan dari erosi alur. Alur – alur terus menerus digerus oleh aliran air terutama di daerah-daerah yang banyak hujan, maka alur-alur itu menjadi dalam dan lebar dengan aliran air yang lebih kuat. Alur-alurtersebuttidakdapathilangdenganpengolahantanahbiasa. Gulliesare steep-sided trenches formed by the coalescence of many rills. Once started they are difficult to stop.  Gully erosion, also called ephemeral gully erosion, occurs when water flows in narrow channels during or immediately after heavy rains. A gully is sufficiently deep that it would not be routinely destroyed by tillage operations, whereas rill erosion is smoothed by ordinary farm tillage. The narrow channels, or gullies, may be of considerable depth, ranging from 1 to 2 feet (0.61 m) to as much as 75 to 100 feet (30 m).

  28. Tipe-tipe erosi permukaan (sumber: http://www.ecy.wa.gov/programs) Sumber: diunduh dari:

  29. Erosiparit (channel erosion) Parit-parityang besarseringmasihterusmengalir lama setelahhujanberhenti. Aliranair dalamparitinidapatmengikisdasarparitataudinding-dindingtebingparitdibawahpermukaan air, sehinggatebingdiatasnyadapatruntuhkedasarparit. Gejalameanderaliran-sungaidapatmeningkatkanpengikisantebingditempat-tempattertentu.

  30. . Stream dan channel erosion disebabkanolehpeningkatan volume dankecepatanaliran air runoff danaliran air sungai (sumber: http://www.civil.ryerson.ca/stormwater/)

  31. Empat tipe erosi tanah pada lereng yang terbuka (sumber: http://www.cep.unep.org/)

  32. Tanah Longsor Tanah longsorterjadikarenagayagravitasi. Biasanyakarenatanahdibagianbawahtanahterdapatlapisan yang licindankedap air (sukarketembus air) sepertibatuanliat. Dalammusimhujantanahdiatasnyamenjadijenuh air sehinggaberat, danbergeserkebawahmelaluilapisan yang licintersebutsebagaitanahlongsor. Sumber: diunduh dari: Main parts of a general landslide. (sumber: http://www.geology.enr.state.nc.us/Landslide_Info/Landslides_main.htm).

  33. Kepekaan Tanah terhadap Erosi dan Longsor Pengetahuantentangfaktorpenentukepekaantanahterhadaplongsordanerosiakanmemperkayawawasandanmemperkuatlandasandaripengambilkeputusan, penanggungjawablapangan, teknisi, penyuluhdanorganisasikemasyarakatandalammenyusun program danmelaksanakanteknikpenanggulanganlongsordanerosididaerahkewenangannya. Longsordanerosimerupakanprosesberpindahnyatanahataubatuandarisatutempat yang lebihtinggiketempat yang lebihrendahakibatdorongan air, angin, ataugayagravitasi. Prosestersebutmelaluitigatahapan, yaitupelepasan, pengangkutanataupergerakan, danpengendapan. Perbedaanfenomenalongsordanerosiadalah volume tanah yang dipindahkan, waktu yang dibutuhkan, dankerusakan yang ditimbulkan. Longsormemindahkanmassatanahdengan volume yang besar, adakalanyadisertaiolehbatuandanpepohonan, dalamwaktu yang relatifsingkat, sedangkanerositanahadalahmemindahkanpartikel-partikeltanahdengan volume yang relatiflebihkecilpadasetiap kali kejadiandanberlangsungdalamwaktu yang relatif lama.

  34. Duabentuklongsor yang seringterjadididaerahpegununganadalah: Guguran, yaitupelepasanbatuanatautanahdarilerengcuramdengangayabebasataubergelindingdengankecepatantinggisampaisangattinggi. Bentuklongsoriniterjadipadalereng yang sangatcuram( >100%). Peluncuran, yaitupergerakanbagianatastanahdalam volume besarakibatkeruntuhangesekanantarabongkahanbagianatasdanbagianbawahtanah. Bentuklongsoriniumumnyaterjadiapabilaterdapatbidangluncurpadakedalamantertentudantanahbagianatasdaribidangluncurtersebuttelahjenuh air. Sumber: diunduh dari:

  35. Bentuklongsor yang terjadidi Indonesia: (a) guguran, dan(b) peluncuran. Sumber: diunduh dari: Main parts of a general landslide. (sumber: http://www.geology.enr.state.nc.us/Landslide_Info/Landslides_main.htm).

  36. DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) Keterkaitanantaradaerahaliransungai (DAS) hulu, tengah, danhilirdapatdijelaskansebagaiberikut: Penggundulanhutandi DAS huluatauzonatangkapanhujanakanmengurangiresapan air hujan, dankarenaituakanmemperbesaraliranpermukaan. Aliranpermukaanadalahpemicuterjadinyalongsordan/atauerosidenganmekanisme yang berbeda. Budidayapertanianpada DAS tengahatauzonakonservasi yang tidaktepatakanmemicuterjadinyalongsordan/atauerosi. Pengendalianaliranpermukaanmerupakankunciutama. Padadaerah yang tidakrawanlongsor, memperbesarresapan air dansebagaikonsekuensinyaadalahmemperkecilaliranpermukaanmerupakanpilihanutama. Sebaliknya, jikadaerahtersebutrawanlongsor, aliranpermukaanperludialirkansedemikianrupasehinggatidakmenjenuhitanahdantidakmemberbesarerosi. Air yang meresapkedalamlapisantanahdizonatangkapanhujandankonservasiakankeluarberupasumber-sumber air yang ditampungdibadan-badan air sepertisungai, danau, danwadukuntukpembangkitlistrik, irigasi, air minum, danpenggelontorankota.

  37. .Toposekuensuatu DAS yang menunjukkanketerkaitanantara DAS hulu, tengah, danhilir (modifikasidari Information Kit FAO, 1995).

  38. FAKTOR TANAH-LONGSOR DAN EROSI Faktor Alam FaktorManusia KondisiIklim Faktormanusiaadalahsemuatindakanmanusia yang dapatmempercepatterjadinyaerosidanlongsor. Sifat Tanah BahanInduk Tanah Elevasi dan Lereng Sumber: diunduh dari:

  39. Iklim - HUJAN Curahhujanmerupakanunsuriklim yang sangatberpengaruhterhadapkejadianlongsordanerosi. Air hujan yang terinfiltrasikedalamtanahdanmenjenuhitanahmenentukanterjadinyalongsor, sedangkanpadakejadianerosi, air limpasanpermukaanadalahunsurutamapenyebabterjadinyaerosi. Hujandengancurahandanintensitas yang tinggi, misalnya 50 mm dalamwaktusingkat (<1 jam), lebihberpotensimenyebabkanerosidibandinghujandengancurahan yang samanamundalamwaktu yang lebih lama (> 1 jam). Namuncurahhujan yang samatetapiberlangsung lama (>6 jam) berpotensimenyebabkanlongsor, karenapadakondisitersebutdapatterjadipenjenuhantanaholeh air yang meningkatkanmassatanah. Intensitashujanmenentukanbesarkecilnyaerosi, sedangkanlongsorditentukanolehkondisijenuhtanaholeh air hujandankeruntuhangesekanbidangluncur. Curahhujantahunan >2000 mm terjadipadasebagianbesarwilayah Indonesia. Kondisiiniberpeluangbesarmenimbulkanerosi, apalagidiwilayahpegunungan yang lahannyadidominasiolehberbagaijenistanah.

  40. SIFAT TANAH: Kedalaman, teksturdanstrukturtanah Kedalamanatausolum, tekstur, danstrukturtanahmenentukanbesarkecilnya air limpasanpermukaandanlajupenjenuhantanaholeh air. Padatanahbersolumdalam (>90 cm), strukturgembur, danpenutupanlahanrapat, sebagianbesar air hujanterinfiltrasikedalamtanahdanhanyasebagiankecil yang menjadi air limpasanpermukaan. Padatanahbersolumdangkal, strukturpadat, danpenutupanlahankurangrapat, hanyasebagiankecil air hujan yang terinfiltrasidansebagianbesarmenjadialiranpermukaan

  41. Elevasi Elevasi adalah istilah lain dari ukuran ketinggian lokasi di atas permukaan laut. Lahanpegununganberdasarkanelevasidibedakanatasdataran medium (350-700 m dpl) dandatarantinggi (>700 m dpl). Elevasiberhubunganeratdenganjeniskomoditas yang sesuaiuntukmempertahankankelestarianlingkungan. BadanPertanahanNasionalmenetapkanlahanpadaketinggiandiatas 1000 m dpldanlereng >45% sebagaikawasanusahaterbatas, dandiutamakansebagaikawasanhutanlindung. DepartemenKehutananmenetapkanlahandenganketinggian >2000 m dpldan/ataulereng >40% sebagaikawasanlindung.

  42. Lereng Lerengataukemiringanlahanadalahsalahsatufaktorpemicuterjadinyaerosidanlongsordilahanpegunungan. Peluangterjadinyaerosidanlongsormakinbesardenganmakincuramnyalereng. Semakincuramlerengmakinbesar pula volume dankecepatanaliranpermukaan yang berpotensimenyebabkanerosi. Selainkecuraman, panjanglerengjugamenentukanbesarnyalongsordanerosi. Semakinpanjanglereng, erosi yang terjadimakinbesar. Padalereng >40% longsorseringterjadi, terutamadisebabkanolehpengaruhgayagravitasi. Kondisiwilayah/lerengdikelompokkan : Datar : lereng <3%, denganbedatinggi <2 m. Berombak : lereng 3-8%, denganbedatinggi 2–10 m. Bergelombang : lereng 8-15%, denganbedatinggi 10–50 m. Berbukit : lereng15-30%, denganbedatinggi 50–300 m. Bergunung : lereng >30%, denganbedatinggi >300 m.

  43. Kemiringandanpanjanglerengmempengaruhi runoff yang terjadikalauhujanjatuhdipermukaanlahan. (sumber: http://www.uwsp.edu/geo/).

  44. PENDUGAAN EROSI Pendugaan erosi diperlukan untuk meramalkan besar erosi yang telah dan/atau akan terjadi pada suatu lahan dengan atau tanpa pengelolaan tertentu. Selain itu juga digunakan untuk memilih praktek penggunaan lahan dalam arti luas yang mempunyai produktivitas tinggi dan berkelanjutan. Pendugaan erosi dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan: 1. Pendekatan Laboratorium Pendugaan erosi di laboratorium adalah dengan melakukan pengukuran erosi tanah yang ditempatkan pada petak-petak kecil dan diberi perlakuan hujan buatan (rainfall simulator). Perilaku erosi di laboratorium tidak sama dengan keadaan alami di lapangan. Namun demikian pengetahuan tentang erosi dapat bertambah secara cepat, karenapenelitianuntuk mempelajari dan/atau menduga erosi di laboratorium lebih mudah, lebih praktis, sehingga dapat dilaksanakan setiap waktu.

  45. PENDEKATAN LAPANGAN Pengukuran erosi dapatdilakukan di lapangan dengan menggunakan sistem petak kecil atausistempetak besar. Pendugaan erosidengan menggunakan petak percobaan, memang mendekati kondisi alami yang sebenarnya. Cara ini membutuhkan banyakbiaya, tenaga, dan waktu. Untuk mengetahui laju dan jumlah erosi yang terjadi pada berbagai jenis penggunaan lahan dan berbagai jenis penggunaan tanaman pada berbagai jenis tanah dan topografi (kemiringan dan panjang lereng) juga dibutuhkan biaya yang sangatbesar, tenaga kerja yang banyak, dan waktu yang relatif lama.

  46. Pendekatan Lapangan Salah satu penyebab utama kerusakan tanah pertanian adalah erosi, selain merusak lahan yang tererosi juga akan menimbulkan masalah lain di hilirnya berupa pendangkalan sungai, saluran irigasi, waduk dan lain-lain. Penyebab utama erosi lahan adalah air hujan dan limpasan pennukaan. Faktor-faktor yang berpengaruh tehadap erosi dan runoff adalah iklim, tanah, topografi, kemiringan lereng, vegetasi dan kegiatan manusia. Empatfaktorpertamalebihbanyakditentukanolehalam, sedangkanfaktorvegetasidapatdiaturolehmanusia. Tindakan yang dapatdilakukanuntukmengendalikanerosidan runoff adalahpengaturanvegetasipenutupmukalahan. Setiapjenistanamanmempunyaipengaruh yang berbedaterhadaperositanahdanlimpasanpermukaan, sehinggaperludiketahuikarakteristikjenis-jenistanaman yang ditanamolehpetani.

  47. Pendekatan Gabungan Pendekatan ini dilakukan melalui interprestasi data dengan penginderaan jauh (remote sensing images) misalnya foto udara dan citra satelit. Dengan metode ini erosi bentang lahan pada areal yang luas dapat dilakukan dengan mudah dan efektif. Metode ini dapat terlaksana dengan baik bila tersedia sarana dan prasarana yang memadai terutama peralatan untuk pemrosesan citra (image processor) dan juga alat untuk interpretasi potret udara meliputi stereoskop dari yang sederhana sampai yang lebih canggih. Sumber: diunduh dari:

  48. Pendekatan Permodelan: MODEL PENDUGAAN EROSI Model adalah “kumpulan hukum-hukum fisik dan atau pengamatan empirik yang ditulis dalam bentuk persamaan-persamaan matematik dan dikombinasikan sedemikian rupa untuk menghasilkan sekumpulan hasil berdasarkan pada sekumpulan kondisi yang sudah diketahui atau diasumsikan”. Hubungan dengan erosi tanah, permodelan merupakan penggambaran secara matematik proses-proses penghancuran, transport, dan deposisi partikel tanah di atas permukaan lahan (Nearing et al., 1994). Ada dua macam model penduga erosi yang sekarang ini banyak dipakai yakni model berbasis empirik (empirically based model) dan model berbasis proses (process based model). Model berbasis empirik mengaitkan langsung keluaran dari model (output) dengan input (misalnya penggunaan lahan, luas, dan lereng) dengan menggunakan model-model statistik. Model empirikumumnyamembutuhkanlebihsedikit input danperhitungan yang lebihsederhanadibanding model berbasisproses (ICRAF, 2001; Schmitz danTameling, 2000). Umumnya model empirikinimemprediksi rata-rata tahunanaliranpermukaandanerosiberdasarkanprediksijangkapanjang. Model initidakmempertimbangkandistribusispasialdari input parameter daninteraksinya yang akanmempengaruhi output.

  49. Model USLE Pendekatan ini adalah dengan menggunakan pendekatan matematika, yang dikembangkan oleh Wischmeir dan Smith (1978), rumus ini pertama kali dikembangkan dari kenyataan bahwa erosi adalah fungsi erosivitas dan erodibilitas. Rumus ini dikenal dengan Persamaan Umum Kehilangan Tanah (PUKT) atau Universal Soil-Loss Equation (USLE). Rumus ini digunakan di suatu wilayah dimana curah hujan dan jenis tanahnya relatif sama sedangkan yang beragam adalah faktor panjang lereng, kemiringan lereng, serta pengelolaan lahan dan tanaman (L, S, P, C).

  50. Model USLE Rumus USLE tersebut adalah sebagai berikut (Wischmeir dan Smith, 1978): A = R K LS C P dimana : A= Besarnya kehilangan tanah per satuan luas lahan. Besarnya kehilangan tanah atau erosi dalam hal ini hanya terbatas pada erosi kulit dan erosi alur. Tidak termasuk erosi yang berasal dari tebing sungai dan juga tidak termasuk sedimen yang terendapkan di bawah lahan-lahan dengan kemiringan besar. R = Faktor erosivitas curah hujan dan air larian untuk daerah tertentu, umumnya diwujudkan dalam bentuk indeks erosi rata-rata (El). Faktor R juga merupakan angka indeks yang menunjukkan besarnya tenaga curah hujan yang dapat menyebabkan terjadinya erosi. K = Faktor erodibilitas tanah untuk horizon tertentu, dan merupakan kehilangan tanah per satuan luas untuk indeks erosivitas tertentu. Faktor K adalah indeks erodibilitas tanah, yaitu angka yang menunjukkan mudah tidaknya partikel-partikel tanah terkelupas dari agregat tanah oleh gempuran air hujan atau air larian. L = Faktor panjang lereng yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah untuk panjang lereng tertentu dengan besarnya kehilangan tanah untuk panjang lereng 72,6 ft. S = Faktor gradien (beda) kemiringan yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah untuk tingkat kemiringan lereng tertentu dengan besarnya kehilangan tanah untuk kemiringan 9%. C = Faktor pengelolaan (cara bercocok tanam) yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah pada kondisi cara bercocok tanam yang diinginkan dengan besarnya kehilangan tanah pada keadaan tilled continuous fallow. P = Faktor praktek konservasi tanah (cara mekanik) yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah pada kondisi usaha konservasi tanah ideal (misalnya, teknik penanaman sejajar garis kontur, penanaman dengan teras, penanaman dalam larikan) dengan besarnya kehilangan tanah pada kondisi penanaman tegak lurus terhadap garis kontur.