Download
kursus pelatih resimen mahasiswa wira makara universitas indonesia n.
Skip this Video
Loading SlideShow in 5 Seconds..
Kursus Pelatih Resimen Mahasiswa “ Wira Makara ” Universitas Indonesia PowerPoint Presentation
Download Presentation
Kursus Pelatih Resimen Mahasiswa “ Wira Makara ” Universitas Indonesia

Kursus Pelatih Resimen Mahasiswa “ Wira Makara ” Universitas Indonesia

395 Vues Download Presentation
Télécharger la présentation

Kursus Pelatih Resimen Mahasiswa “ Wira Makara ” Universitas Indonesia

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript

  1. METODE PSYWAR & SHOCKTHERAPHY Dalam budaya komunikasi Menwa UI KursusPelatih ResimenMahasiswa “WiraMakara” Universitas Indonesia Andry Virhansyah, S. Si. G’96 – G9604 GMC UI Layu Kasie II/Operasi

  2. Tujuan Pengajaran Umum PesertamengertitentangkonsepdasardarikeduahaltersebutdandapatmenerapkannyadalamkaitannyasebagaiPelatihdiResimenMahasiswaWiraMakaraUniversitas Indonesia

  3. Tujuan Pengajaran Khusus “Know when to use it and know when to stop”

  4. Prinsip Dasar “Segalasesuatuberawaldariniat”

  5. NilaiDasar KETULUSAN!!!

  6. PSYWAR • SecaraTerminologiberartiPerangPsikologis/Perang Urat Syaraf/Perang Ideologi • Adalahcaramengarahkanataumembentukmindframedariseseorangatausekumpulanoranguntukmengikutiapa yangdikehendakiseseorangatausekumpulanorang yang lain. • Membenturkan ideologi/pemahaman seseorang/kelompok dengan ideologi/pemahaman yang kita miliki sehingga muncul pertentangan, di mana pada akhirnya mereka mau menerima ideologi kita dan melaksanakannya.

  7. Berlaku universal, artinyaprosesinidilakukanolehberbagaipihakdalammempengaruhipihak lain. • Dalamduniamiliter, dikenaldenganistilah “Indoktrinasi”, dalamdunia marketing dikenaldenganistilah “Branding”, dalamduniasosialdikenaldenganistilah “Provokasi”, dalamduniake-humas-an dikenaldenganistilah “Propaganda”

  8. Bentuk-bentukPsywar • Audio, bentuknya hanya melalui suara, bisa hanya dengan memperdengarkansuarasecaraterusmenerus atau dengan perintah lisan yang diulang-ulang • Visual, bentuknya bisa dengan tulisan, gambar, atau film singkat tanpa suara • Audio Visual, bentuknya dengan suatu yang lebih lengkap dari kedua bentuk diatas, meliputi segala aspek panca indra. Contohnya dengan filmlengkapdengansuara, atau role model

  9. Testimony “DuluwaktusayamenjadiCaangMenwa, sebulansebelumpelaksanaanpembaretan, suasanapembaretansudahterasasaatsayamemasukiMakoMenwa UI.” (8AV/Layu S-2)

  10. Mengapa ? • SaatmemasukiMako, adapamflet-pamfletdipapanpengumumandan di beberapa tempat yang massage-nyamengingatkanseluruhanggotaakanpelaksanaanPembaretan. • Sudahadatulisan yang membatasiwilayahgerakpesertabaret. Terjadi pemisahan yang jelas diruangan mana saja calon peserta Baret boleh beraktifitas • Para senior yang mendadak ‘jagajarak’ terhadappesertabaret. • IntensitasBinjas/LatihanFisiksemakintinggi • ApelPengecekandilaksanakanseminggu 2 (dua) kali, meliputikesiapanpersonildanperalatan

  11. Dankibaret yang semakinkerasmelatih pesertabaret • Kamidipaksauntukmenghafalsemualagu-laguMako, Dankiselalubilang “IkutBarettidakhafallagu, matikamu!” • Semakindekatwaktupelaksanaanpembaretan, suhumakosemakintinggi. Semua senior diMakosemakin “galak” terhadappesertabaret. Tidakadatoleransiuntuksetiapkesalahan. ANEHNYA . . . . .

  12. “KAMI TIDAK PERNAH BERFIKIR UNTUK MUNDUR !!!”

  13. Mengapa ? • Prosestadiberlakusebagaisebuahsistem. Tidakhanyadilakukanolehsatuorangsaja, tapisemuaSenior/SatgasdiMakomelakukanproses yang sama • Adanuansaketulusanterasajustrusaat “suhumakomakinmemanas”.

  14. Breakdown • Visual 1. Pamflet yang massage-nyamengarahkanmindframeseluruhsistemMakountukmempersiapkanfisikdan mental sertamenjagakebersamaanmenujupelaksanaanpembaretan 2. Tulisantentangarea Pesertadanarea Satgasmassage-nyaadalahmembentukiklimpendidikandimanasalahsatukomponennyaadalahWibawaSatgas.

  15. Audio Intensitassuarategasmaupunbentuk-bentukbentakansemakinseringterdengar. Inijustrubergunauntukmempersiapkan mental pesertamenujupembaretan • Audio Visual SemakintingginyaintensitasBinjasdanApelPengecekanjustrumemperlihatkan “Role Model” kepadapesertabahwapersiapanmemangdilakukanmaksimaltidakhanyaditingkatpesertanamunjugaditingkatSatgas. Disinijustruterlihat “pengorbanan” yang dilakukanDankidanSatgasmengawalkegiatanpembaretan. Disinijustrunuansaketulusansemakinterasa.

  16. Hasilnya. . . SosokAnggotaMenwa UI yang mampu meredamsisinegatif dariseragamhijau yang dikenakannya. . .

  17. Teori Mata Pedang Disadariatautidak, saatkitapakaiseragam, adabeberapafasilitas yang akankitadapat. Justruinidapatmenimbulkankesombongan atau sifat negatif dalamdirikita. HATI – HATI ! ! !

  18. Role Modelnya . . . Orang-orang yang saat ini ada didepan, disamping, ditengah-tengah, dan dibelakang kalian. . .

  19. Visual Psywar Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya psywar dalam bentuk tulisan (visual) di Mako, meliputi: • Semantik, yaitu efek yang ditimbulkan berdasarkan penggunaan kata, gaya bahasa, tanda baca, atau bahkan gambar • Penempatan, yaitu efek yang ditimbulkan berdasarkan penempatan dalam kaitannya dengan tata ruang mako dan unsur yang beraktifitas di dalamnya • Timing, yaitu efek yang ditimbulkan berdasarkan dimensi waktu dimunculkannya • Aspek Legal, yaitu siapa atau unsur apa yang mengeluarkan.

  20. Semantik • Efek yang ditimbulkan berdasarkan penggunaan kata (gaya bahasa), tanda baca, atau bahkan gambar • Perhatikan keempat pamflet dibawah ini dan bandingkan efeknya

  21. Pamflet 1: TEGAKKAN PPM • Pamflet 2: TEGAKKAN PPM!

  22. Pamflet 3: TEGAKKAN PPM!!! • Pamflet 4: TEGAKKAN PPM!!!

  23. Secara semantik, penggunaan tanda baca maupun ikon/gambar memunculkan efek penekanan/pressure yang berbeda. Ini dimaksudkan bahwa pamflet tersebut berfungsi untuk mengingatkan tentang pentingnya aturan dimaksud ditegakkan atau dilaksanakan. • Efek penekanan terbesar ada di pamflet nomor 4.

  24. Pamflet 5:

  25. Pamflet 6: • !

  26. Pada pamflet nomor 6, penggunaan tanda seru malah membuat makna dari pamflet ini menjadi rancu. Penggunaan kata “harap” bermakna “himbauan”, sementara penggunaan “tanda seru” (!) bermakna “perintah”. • Berdasarkan EYD, kata keterangan “di” bila dirangkai dengan kata kerja, penulisannya harus disambung. Penulisan “di lepas” yang benar adalah “dilepas” • Semantik yang benar terdapat pada pamflet nomor 5

  27. Pamflet 7:

  28. Pamflet 8: • ?

  29. Kalimat pada pamflet nomor 7 tidak jelas apakah bermakna pertanyaan atau pernyataan. Bila melihat teknik penulisannya, ini termasuk pada gaya bahasa sarkastik, artinya bermaksud menegur secara halus untuk mengingatkan siapapun yang berada di ruangan atau di depan cermin itu tentang sistem nilai yang berlaku di mako, yaitu kerapihan dalam berpakaian. • Pada kondisi ini seharusnya kalimat itu bernada pertanyaan, sehingga untuk menegaskan pesan yang disampaikan, seyogyanya kalimat itu ditutup dengan tanda tanya seperti yang terdapat pada pamflet nomor 8

  30. Pamflet 9:

  31. Gaya bahasa militer adalah gaya bahasa yang singkat, jelas, padat. Penekanan pada penggunaan kata dan tanda baca serta ikon berguna untuk mempertegas isi dari pamflet, apakah bersifat perintah, nasihat, atau himbauan tanpa meninggalkan prinsip gaya bahasa tadi. • Pada pamflet nomor 9, pesannya adalah keamanan dari kamar staff. Seharusnya ini yang ditekankan, tidak perlu menampilkan efek atau akibat yang dapat muncul apabila ini tidak dilakukan.

  32. “Kamar Staff harus selalu dikunci”, kalimat ini adalah pesan yang ingin disampaikan • “Agar tidak terjadi kehilangan”, adalah efek yang dapat timbul dari tidak dijalankannya massage yang ada di kalimat pertama • Kalimat kedua dapat digantikan dengan hanya menggunakan tanda seru (!) di akhir kalimat pertama. Contoh, “Kamar Staff harus selalu dikunci!”

  33. Penempatan • Efek yang ditimbulkan berdasarkan penempatan dalam kaitannya dengan tata ruang mako dan unsur yang beraktifitas di dalamnya

  34. Denah Mako

  35. Jenjang Hirarkhis Ruangan Area Publik Hirarki Paling rendah Hirarki Medium Hirarki Paling Tinggi

  36. Tingkatan penekanan pesan yang muncul pada pamflet di setiap ruangan dibedakan berdasarkan hirarki ruangan. • Untuk tingkatan pressure tertinggi ada di ruang Caang sebagai elemen terendah di mako. • Untuk area Medium dan Tinggi diberikan penekanan pesan dengan efek himbauan. Diusahakan bahasa komunikasi yang digunakan adalah bahasa dengan tingkatan positif. Hindari penggunaan kata dengan efek negatif, seperti “jangan, dilarang, dll.”

  37. Dimensi Waktu • Efek yang ditimbulkan berdasarkan waktu dimunculkannya. Harus diperhatikan masalah masa kadaluarsa dari pamflet, jangan sampai terjadi pamflet untuk sebuah kegiatan dipasang melebihi waktu pelaksanaan. • Untuk pamflet yang pesannya berlaku selamanya, tidak perlu memunculkan tanggal atau tahun

  38. Aspek Legal • Siapa atau unsur apa yang mengeluarkan. Ini penting untuk menegaskan efek apa yang diharapkan muncul kepada siapapun yang membaca termasuk siapa yang bertanggung jawab atas isi dari pamflet tersebut.

  39. Pamflet 5:

  40. Hindari penggunaan logo pada pamflet di lingkungan internal mako. Logo lebih berfungsi ketika digunakan dalam kaitan surat-menyurat. • Hindari penggunaan waktu untuk pamflet yang masa berlakunya jangka panjang. Pada pamflet diatas, pesannya ditujukan untuk keperluan jangka panjang, jadi tidak perlu muncul tahun (ex. Kompi Markas 2010). Aspek waktu disini hanya membuat rancu apakah pesan ini dibuat tahun 2010, untuk berlaku pada tahun 2010, atau yang mengeluarkan adalah Kompi Markas Angkatan tahun 2010.

  41. Audio Psywar Sementara ini tidak ada bentuk audio/non verbal psywar dalam kehidupan mako.

  42. Audio Visual Psywar Bentuknya adalah kegiatan keseharian di mako yang merepresentasikan sistem nilai dan budaya yang berlaku di mako, seperti berpakaian rapih pada jam dinas, adanya petugas piket, prosesi penaikan dan penurunan bendera.

  43. Jam Dinas • Jam dinas di Mako adalah dari jam 08.00 WIB – 17.00 WIB. Pada jam ini diusahakan anggota berpakaian rapih terutama petugas piket, kecuali bila ada kegiatan lapangan seperti binjas. • Petugas piket mengenakan atribut berdasarkan PUDD. • Bentuk kegiatan ini merepresentasikan budaya organisasi Menwa UI

  44. Piketer • Terdiri atas Piket Siang dan Malam. Piket siang terdiri atas dua sesi, sesi pagi dan sore. Sesi pagi dari jam 08.00 – jam 13.00 WIB. Sesi siang dari jam 13.00 – jam 18.00 WIB. Piket malam dari jam 18.00 – 22.00 WIB. • Piketer siang berpakaian bebas rapih, mengenakan name tag piket dan selendang piket, piketer malam mengenakan PDL lengkap, selendang piket, dan ban biket • Piketer bertugas menerima tamu, mengontrol buku piket, mencatat kehadiran tamu/alumni, membuat berita acara kejadian luar biasa di lingkungan mako

  45. Buku Piket • Anggota dibiasakan mengisi buku piket setiap merapat dan akan meluncur dari Mako. Untuk alumni, kegiatan ini dilakukan oleh piketer • Buku piket berfungsi untuk memantau keaktifan anggota, presensi alumni/tamu, selain itu juga berfungsi sebagai buku laporan berita acara kejadian luar biasa di sekitar mako.

  46. PPM • Proses pemberian penghormatan kepada anggota yang lain setiap merapat atau meluncur dari mako, atau bertemu dengan anggota lain selama di mako adalah salah satu budaya dasar yang merepresentasikan ikatan batin dan emosional di keluarga besar Menwa UI

  47. Prosesi Penaikan dan Penurunan Bendera Merah Putih • Kebiasaan penaikan dan penurunan bendera merah putih setiap jam 6 pagi dan sore hari merupakan aktifitas yang merepresentasikan kehidupan markas kepada masyarakat umum

  48. SHOCKTHERAPHY • SecaraTerminologiberartiTerapiKejut • Adalahmetode yang seringdipergunakandalamMetodePendidikanMiliter. Bergunauntukpembentukansuasanapendidikan, karakter, mental seseorangdalamPendidikanMiliter.

  49. Tujuan Pengajaran Khusus “Know when to use it and know when to stop”

  50. Prinsip Dasar “Segalasesuatuberawaldariniat”