1 / 72

Kelalaian dan malpraktik

Kelalaian dan malpraktik. Meivy. HUB. DOKTER - PASIEN. PATERNALISTIK SEJAK HIPPOCRATES DIANGGAP DASARNYA : SALING PERCAYA PRINSIP MORAL UTAMA : BENEFICENCE “ MENIADAKAN ” HAK PASIEN (CONSENT) MULAI DIKRITIK TAHUN 1956 KONTRAKTUAL MULAI TAHUN 1972-1975 ( social contract )

kelton
Télécharger la présentation

Kelalaian dan malpraktik

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Kelalaiandanmalpraktik Meivy

  2. HUB. DOKTER - PASIEN • PATERNALISTIK • SEJAK HIPPOCRATES • DIANGGAP DASARNYA : SALING PERCAYA • PRINSIP MORAL UTAMA : BENEFICENCE • “MENIADAKAN” HAK PASIEN (CONSENT) • MULAI DIKRITIK TAHUN 1956 • KONTRAKTUAL • MULAI TAHUN 1972-1975 (social contract) • PRINSIP MORAL UTAMA : AUTONOMY • INSPANNINGSVERBINTENNIS

  3. “KONTRAK TERAPEUTIK” • SALAH SATU HUBUNGAN HUKUM DOKTER-PASIEN • TIDAK SEIMBANG / SETARA • DOKTER TIDAK MENJANJIKAN HASIL (RESULTAATSVERBINTENNIS), TETAPI MENJANJIKAN UPAYA YANG SEBAIK-BAIKNYA (INSPANNINGSVERBINTENNIS) – reasonable care • HARUS DIJAGA DENGAN ATURAN

  4. HUB. DOKTER-PASIEN (cont..) • KRITIK TERHADAP KONTRAKTUAL : • TAK ADA NEGOSIASI EKSPLISIT • TAK ADA EKSPEKTANSI EKSPLISIT • TERLALU MATERIALISTIK, BUKAN ETIK • MELUPAKAN FAKTOR SISTEM SOSIAL • TERLALU LEGALISTIK : PERATURAN • TERFOKUS PADA PRINSIP AUTONOMY • CENDERUNG M,EMINIMALKAN MUTU • DISEBUT : BOTTOM-LINE ETHICS

  5. HUB. DOKTER-PASIEN (cont..) • FIDUCIARY : VIRTUE BASED ETHICS • PRINSIP : MORAL KEUTAMAAN • BUKAN SEKEDAR KEWAJIBAN DAN PERATURAN, TETAPI JUGA “BAGAIMANA SIKAP SEBAIKNYA” • EMPATHY, COMPASSION, PERHATIAN, KERAMAHAN, KEMANUSIAAN, SALING PERCAYA, ITIKAD BAIK, dll • HUBUNGAN : BERTUMBUH-KEMBANG, BERTUJUAN MENSEJAHTERAKAN PASIEN • KOMUNIKASI HARUS BAIK

  6. PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR MALPRAKTIK MEDIS

  7. Pengertian PH Law • Medikolegal/legal • Menggunakan peraturan yg sudah ada (dibuat oleh penguasa/pejabat sah masa lalu) sbg “payung hukum” • Etikolegal • Membuat peraturan baru berbasis etika (oleh penguasa/pejabat sah masa kini utk kepentingan masa depan), krn peraturan lama sdh tak memadai akibat perkembangan iptek, masyarakat dunia/lokal, kapital, dll • Bila telah disahkan : menjadi medikolegal masa depan

  8. MALPRACTICE BLACK’S LAW DICTIONARY • PROFESSIONAL MISCONDUCT OR UNREASONABLE LACK OF SKILL. • FAILURE OF ONE RENDERING PROFESSIONAL SERVICES TO EXERCISE THAT DEGREE OF SKILL AND LEARNING COMMONLY APPLIED UNDER ALL THE CIRCUMSTANCES IN THE COMMUNITY BY THE AVERAGE PRUDENT REPUTABLE MEMBER OF THE PROFESSION WITH THE RESULT OF INJURY, LOSS OR DAMAGE TO THE RECIPIENT OF THOSE SERVICES OR TO THOSE ENTITLED TO RELY UPON THEM. ARTINYA : LALAI MENGAKIBATKAN CEDERA/ KERUGIAN

  9. PENGERTIAN MALPRAKTIK • KATA MALPRAKTIK TIDAK ADA DALAM PERATURAN PER-UU-AN DI INDONESIA • Pasal 55 ayat (1) UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan :“setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan”.

  10. Pasal 50 UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran :“dokter dan dokter gigi berhak memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional”. JADI, …… MALPRAKTIK BILA “KESALAHAN”, “KELALAIAN”, “TAK SESUAI STANDAR PROFESI”, “TAK SESUAI STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL” ????

  11. Unsur malpraktik • Ada kesalahan dokter • Terjadi krn tidak menggunakan lmu dan ketrampilan yg seharusnya dilakukan • Berdasarkan standar profesi • Mengakibatkan pasien terluka /cacat/ meninggal

  12. MALPRAKTEK • “INTENTIONAL” (secara sadar) • PROFESSIONAL MISCONDUCTS • NEGLIGENCE • MALFEASANCE, MISFEASANCE, NONFEASANCE • LACK OF SKILL • DI BAWAH STANDAR KOMPETENSI • DI LUAR KOMPETENSI

  13. PROFESSIONAL MISCONDUCT • PELANGGARAN DISIPLIN PROFESI • PELANGGARAN STANDAR SECARA SENGAJA (DELIBERATE VIOLATION) • PELANGGARAN PERILAKU PROFESI • PIDANA UMUM: • PEMBOHONGAN (FRAUD / MISREPRESENTASI) • KETERANGAN PALSU • PENAHANAN PASIEN • BUKA RAHASIA KEDOKTERAN TANPA HAK • ABORSI ILEGAL • EUTHANASIA • PENYERANGAN SEKSUAL

  14. LACK OF SKILL • KOMPETENSI KURANG ATAU DI LUAR KOMPETENSI / KEWENANGAN • SERING MENJADI PENYEBAB ERROR ATAU KELALAIAN • SERING DIKAITKAN DENGAN KOMPETENSI INSTITUSI • KADANG DAPAT DIBENARKAN PADA SITUASI-KONDISI LOKAL TERTENTU(LOCALITY RULE, LIMITED RESOURCES) • TUNTUTAN DAPAT BERUPA KELALAIAN

  15. Tingkatan malpraktik(ringan – berat) • Eror of jugdment (kesalahan penilaian) • Slight negligence (kelalaian ringan) • Gross negligence (kelalaian berat) • Intentional wrongdoing atau criminal intent (tindakan dengan sengaja yg bernafas kriminal)

  16. KELALAIAN MEDIK • JENIS MALPRAKTIK TERSERING • BUKAN KESENGAJAAN • TIDAK MELAKUKAN YG SEHARUSNYA DILAKUKAN, MELAKUKAN YG SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN OLEH ORANG2 YG SEKUALIFIKASI PADA SITUASI DAN KONDISI YG IDENTIK

  17. SYARAT KELALAIAN (4D) • DUTY (Duty of care) • KEWAJIBAN PROFESI • KEWAJIBAN AKIBAT KONTRAK DG PASIEN • DERELICTION / BREACH OF DUTY • PELANGGARAN KEWAJIBAN TSB • DAMAGES • CEDERA, MATI ATAU KERUGIAN • DIRECT CAUSALSHIP • HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT, SETIDAKNYA PROXIMATE CAUSE

  18. MEDICAL MALPRACTICE • Medical malpractice involves the physician’s failure to conform to the standard of care for treatment of the patient’s condition, or lack of skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to the patient. D2 D1 D2 D2 D4 D3 World Medical Association, 1992

  19. Apakah KTD = Malpraktik?

  20. NEAR MISS Adalah tindakan yg dapat mencederai pasien, tetapi tidak mengakibatkan cedera karena faktor kebetulan, pencegahan atau mitigasi ERRORS PREVENTABLE ADVERSE EVENTS VIOLATION Setiap cedera yang lebih disebabkan oleh manajemen medis drpd akibat penyakitnya ADVERSE EVENTS UNPREVENTABLE ACCEPTABLE RISKS UNFORESEEABLE RISKS DISEASE / COMPLICATION

  21. kelalaian # 1 TERSERING DILAKUKAN • Melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan • Tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan • Implikasi : ada standar profesi (sebagian mengatur standar kompetensi Dr) sbg tolok ukur • Ini sejalan dgn hukum disiplin : mengukur kurva normal (rata2). OLEH ORANG2 YG SEKUALIFIKASI PADA SITUASI DAN KONDISI YG IDENTIK

  22. MISCONDUCT # 2 SENGAJA, TERCELA • FRAUD / MISREPRESENTASI • PENAHANAN PASIEN • BUKA RAHASIA KEDOKTERAN TANPA HAK • ABORSI ILEGAL, • EUTHANASIA • PENYERANGAN SEKSUAL • KETERANGAN PALSU • PRAKTEK TANPA IJIN / TANPA KOMPETENSI • SENGAJA TIDAK MEMATUHI STANDAR Lebih ke arah DELIBERATE VIOLATION BERKAITAN DENGAN MOTIVASI

  23. 3 jenis OPZET (Kesengajaan) • Dari awal = maksud mencapai tujuan • Sebagai keharusan : • Perbuatan bukan tujuan ttp “suatu antara” utk mencapai tujuan = keharusan • Sebagai Kemungkinan ( Dolus Eventualis ) • Mengerti • Insaf akibatnya • Berani ambil tindakan itu Mis : Ngebut di jalan yg ada peringatan banyak orang

  24. LACK OF SKILL # 3 • KOMPETENSI KURANG ATAU DI LUAR KOMPETENSI / KEWENANGAN • SERING MENJADI PENYEBAB ERROR • SERING DIKAITKAN DENGAN KOMPETENSI INSTITUSI / SARANA • KADANG DAPAT DIBENARKAN PADA SITUASI-KONDISI LOKAL TERTENTU Lebih ke arah ERRORS BERKAITAN DENGAN INFORMASI

  25. Mistakes = kekeliruan • Occurs at a conscious level = berkesadaran • Causes • Lack of knowledge • Didn’t ask for help • Inadequate/ineffective orientation - & understanding of others healthcare team mate needs • Didn’t know, afraid to help, difficult to ask • Miscommunication • Verbal orders & illegible orders (just clear enough to make a guess) • Application of “rules” that doesn’t work • High dose opioid are OK in patient with severe longstanding pain

  26. MALPRAKTIK vs BAD OUTCOME UNDERLYING DISEASE PERJALANAN PENYAKIT DAN KOMPLIKASI NO ERROR ADVERSE EVENTS (Kejadian yg tak diharapkan) ACCEPTABLE RISKS UNFORESEEABLE RISKS PREVENTABLE ADVERSE EVENTS PREVENTABLE ADVERSE EVENTS ACTIVE ERRORS (Error of planning & error of execution) LATENT ERRORS NEGLIGENT ADVERSE EVENTS DUTY + BREACH OF DUTY (KELALAIAN MEDIS) + DAMAGE + CAUSAL Liable

  27. JADI, MALPRAKTIK: • DINILAI BUKAN DARI “HASIL” PERBUATANNYA, MELAINKAN DARI “PROSES” PERBUATANNYA. • Dugaan adanya malpraktik kedokteran harus ditelusuri dan dianalisis terlebih dahulu untuk dapat dipastikan ada atau tidaknya malpraktik, kecuali apabila faktanya sudah membuktikan bahwa telah terdapat kelalaian – yaitu pada res ipsa loquitur (the thing speaks for itself)

  28. MENYEBABKAN MATI ATAU LUKAKARENA KELALAIAN • PASAL 359 BARANGSIAPA KARENA KESALAHANNYA (KEALPAAANNYA) MENYEBABKAN ORANG LAIN MATI, DIANCAM DENGAN PIDANA PENJARA PALING LAMA LIMA TAHUN ATAU PIDANA KURUNGAN PALING LAMA SATU TAHUN. • PASAL 360 (1)BARANGSIAPA KARENA KESALAHANNYA(KEALPAANNYA) MENYEBABKAN ORANGLAIN MENDAPAT LUKA-LUKA BERAT DIANCAM DENGAN PIDANA PENJARA PALINGLAMA LIMA TAHUN ATAU PIDANA KURUNGAN PALING LAMA SATU TAHUN.

  29. RISIKO MEDIS • INHEREN PADA SETIAP TINDAKAN MEDIS • SEBAGIAN DIANGGAP ACCEPTABLE: • TINGKAT PROBABILITAS DAN KEPARAHANNYA MINIMAL (UMUMNYA BERSIFAT FORESEEABLE BUT UNAVOIDABLE: CALCULATED, CONTROLLABLE) • RISIKO “BERMAKNA” TETAPI HARUS DIAMBIL KARENA “THE ONLY WAY” (UNAVOIDABLE, UNPREVENTABLE)) • RISIKO YG UNFORESEEABLE = UNTOWARD RESULTS 1 DAN 2 PERLU INFORMED CONSENT, SEHINGGA BILA TERJADI, DOKTER TIDAK BERTANGGUNGJAWAB SECARA HUKUM

  30. Risiko Medik (Anny Isfandyarie) • Dalam tindakan medik ada resiko yg tidak sesuai dng harapan pasien  tuntutan ke pengadilan • Dalam tindakan medis ada tindakan yg beresiko tinggi • Bahwa resiko tinggi tsb berkaitan dng keselamatan jiwa pasien

  31. Gradasi Sanksi Pidana Kedokteran PASCA JUDICIAL REVIEW Korporasi (+ 1/3 & cabut ijin) 80(2) Bohir – DR ilegal : 10 th/Rp.300 jt 80 (1) DR palsu&tiru2 DR: 5th/Rp.150 jt 77 & 78 WNA STR(-) WNI SIP(-) 100 JT 75 & 76 DR STR (-) : 100 JT 74 Papan nama (-), RM (-); lege artis (-) 79 jo 41, 46, 51 Sanksi Disiplin 69 (2) 68 Sanksi Etis via MKEK PS 79 : PIDANA KURUNGAN (-) TANPA PAPAN & TDK CME

  32. “Risiko DR/G Diadili/diperiksa” (UU Pradok) Komite Etik/Medik Komplin RS MKEK “sisa langgar etis” MKDKI Mediasi MAKERSI PS 68 Ps 29 UU Kes 36/09 Dewan Dosen/KPS Kolegium Pan.Adhoc Disiplin Dik PPDS Peer group/Senat PPDS MKDKI DR PN Pidana Merasa dirugikan PS 55 Ps 66 (3) “Peradilan Pers” PN Perdata Adverse event = malpractice DIR RS : PS 80 PIDANA BPSK-Kesehatan

  33. ATURAN PRAKTEK KEDOKTERAN ATURAN KHUSUS UU PRAKTEK KEDOKTERAN UU TENTANG RS KUHP,KUHPERD ATURAN PELENGKAP UU TENTANG KESEHATAN ATURAN PRAKTEK KEDOKTERAN ATURAN KKI ATURAN PELAKSANA ATURAN IDI ATURAN KEMENKES

  34. HakPasien (psl 52) • mendapatkanpenjelasansecaralengkaptentangtindakanmedis F:\rsij\PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS.docx b. memintapendapatdokterataudoktergigi lain; c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; d. menolaktindakanmedis; dan e. mendapatkanisirekammedis.

  35. SENGKETA MEDIS ADMINISTRASI 1.REKAM MEDIS 2.INFORM CONSENT • DOKTER –PASIEN • RUMAH SAKIT –PASIEN • PIDANA • PERDATA • ETIKA • DISIPLIN HUKUM ADR

  36. Disiplin Pidana Perdata Etika TANGGUNGJAWAB HUKUM Polisi,jaksa hakim IDI MKDKI Hakim Cabut Reko mendasi Pencabutan STR/ SIP Denda/Kurungan Penjara Ganti Rugi DOKTER

  37. DUGAAN MALPRAKTEK MASYARAKAT/MEDIA MASSA SETIAP KERUGIAN BAIK LUKA/KEMATIAN MAUPUN CACAT AKIBAT TINDAKAN DOKTER MALPRAKTEK

  38. Apakahdokterdapatdihukum ?? • NIAT BERBUAT JAHAT • PERBUATAN MELANGGAR HUKUM • AKIBAT YANG MERUGIKAN • HUBUNGAN KAUSAL PRAKTEK KEDOKTERAN MKDKI

  39. Kriminalkedokteran • RAHASIA KEDOKTERAN(KUHP 322) • EUTHANASIA (344 KUHP) • ABORTUS TANPA INDIKASI(346,347,348 KUHP) • KETERANGAN PALSU( 263,267 KUHP)

  40. TUNTUTAN PIDANA MEDIS • DALAM AZAS HUKUM PIDANA, PASAL 1 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) MENYATAKAN TIADA SUATU PERBUATAN YANG DAPAT DIPIDANA KECUALI ATAS KEKUATAN ATURAN PIDANA DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG TELAH ADA, SEBELUM PERBUATAN DILAKUKAN. • IKTIKAD BAIK • PIDANA KARENA KESALAHAN /KEALPAAN : DITIK BERATKAN PADA AKIBAT • Kelalaian/kesalahanmenyebabkanmati (KUHPidps 359) • Kelalaian/kesalahanmeyebabkanlukaberat (KUHPidps 360 ayat 1) • Kelalaianmenyebabkanlukasementara (KUHPidps 360 ayat 2 )

  41. LUKa BERAT Pasal 90 KUHP • JATUH SAKIT ATAU MENDAPAT LUKA YANG TIDAK MEMBERI HARAPAN AKAN SEMBUH SAMA SEKALI, ATAU YANG MENIMBULKAN BAHAYA MAUT; • TIDAK MAMPU TERUS MENERUS UNTUK MENJALANKAN TUGAS JABATAN ATAU PEKERJAAN PENCARIAN; • KEHILANGAN SALAH SATU PANCAINDERA; • MENDAPAT CACAT BERAT (VERMINKING); • MENDERITA SAKIT LUMPUH; • TERGANGGUNYA DAYA PIKIR SELAMA EMPAT MINGGU LEBIH; • GUGURNYA ATAU MATINYA KANDUNGAN SEORANG PEREMPUAN

  42. BEBAN PEMBUKTIAN • . Azas utama suatu Negara hukum adalah Rule of law dimana salah satuprinsipnya adalah “Praduga tidak bersalah” (presumption of innocence). Seorang terdakwa harus dianggap tidak bersalah sampai dapat dibuktikan kesalahannya. Azas ini antara lain dapat dilihat/tercermin didalam: • KUHAP Pasal 66: “Tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian” • KUHAP pasal 158: “Hakim dilarang menunjukkan sikap atau mengeluarkan pernyataan di sidang tentang keyakinan mengenai salah atau tidaknya terdakwa

  43. Dengan demikian maka jelaslah bahwa didalam Hukum Pidana seseorang yang dituduhkan sesuatu tidak dibebani pembuktiannya. Kewajiban untuk membuktikan terletak pada penuntut umum.Dokter yang didakwamelakukandugaanmalpraktektidakdibebanikewajibanpembuktian • Pasien yang diwakili penuntut umum adalah seorang yang awam dalam bidang kedokteran. Bagaimana ia bisa memberikan bukti-bukti bahwa misalnya seorang dokter telah berbuat kelalaian (negligence)? Disini memang terletak kesulitan pada Hukum Kedokteran, karena pasien atau penuntut umum tidak mengetahui seluk beluk ilmu kedokteran. Untuk itu biasanya akan dimintakan pendapatnya SAKSI AHLI DARI PROFESI KEDOKTERAN.

  44. DOKTER PASIEN • DugaanMalpraktek (Pidana) KUHP 359/360 dugaan kelalaian TDK SESUAI SPM SESUAI SPM Informed consent Rekam medis MATI/LUKA BERAT/ringan POLISI SAKSI AHLI IDI DAN KPTSN MKEK SP/SEBAB AKIBAT JAKSA SP3 PENGADILAN

  45. KAPAN DOKTER BISA DIGUGAT? • melakukan wanprestasi (Pasal 1239 KUHPerdata); • melakukan perbuatan melawan hukum(Kesalahan) (Pasal 1365 KUHPerdata); • melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan kerugian (Pasal 1366 KUHPerdata); • melalaikan pekerjaan sebagai penanggung jawab (Pasal 1367 ay at(3) KUHPerdata (PASAL 46 RS)

  46. SALAH /KEALPAAN • TINDAKAN MEDIS DILAKUKAN TIDAK SESUAI STANDART PROFESI MEDIS

  47. STANDART PROFESI • Standar profesi Medis menurut Oemar Seno Adji yang mengambil ukuran: • Dokter memiliki kemampuan rata-rata atau "average", • Equal Category and Condition (Kategori dan keadaan yang sama), kategori Dokter di Puskesmas akan berlainan dengan Dokter di rumah sakit modern dengan sarana dan prasarana yang lengkap. • Asas Proporsionslitas dan Subsidiaritas yaitu adanya keseimbangan yang wajar dengan tujuan untuk menangani pasiennya

  48. Menurut Undang undang Praktik Kedokteran no.29 tahun 2004 Standar Profesi : batasan kemampuan (knowledge, skill and professional attitude) minimal yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi

  49. Menurut Undang undang Praktik Kedokteran no.29 tahun 2004 Standar Profesi : batasan kemampuan (knowledge, skill and professional attitude) minimal yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi

  50. TIDAK SALAH /TIDAK KEALPAAN • TINDAKAN MEDIS DILAKUKAN SESUAI STANDART PROFESI MEDIS

More Related